Selasa, 07 April 2009

komposting dengan bioaktivator EM4

BAB I

A. Inti sari

Dalam pengkomposan terdapat berbagai macam cara. Salah satunya adalah, EM4 . EM4 adalah sejenis bakteri yang dibuat untuk membantu dalam pembusukan sampah organik sehingga dapat di manfaatkan dalam proses pengkomposan. Kompos yang di hasilkan oleh cara ini ramah lingkungan berbeda dengan kompos anorganik yang berasal dari zat-zat kimia. Kompos ini juga mengandung zat-zat yang tak dimiliki pupuk anorganik yang baik bagi tanaman. Dalam teknik pengkomposan ini daun dibusukkan dengan bantuan bakteri EM4. Dengan bantuan bakteri tersebut. Maka,daun tersebut dapat menyisakan zat hara yang baik untuk tanaman. Keadaan anaerob saat pembusukan sangatlah penting, karena bakteri tersebut akan mati jika tercampur dengan gas atau udara dan tidak bisa di biakkan. Komposting dengan EM4 juga terbilang mudah sebab alat dan bahan gampang di temukan di pasaran. 


B. Pendahuluan

1. Latar Belakang 

Selama ini kita lihat sekeliling kita banyak sekali sampah – sampah yang berserakan tak terkontrol, ada di mana – mana, mulai dari lingkungan rumah kita hingga di lingkungan sekolah. Sampah – sampah tersebut membuat lingkungan kita menjadi kotor, dapat menimbulkan pencemaran, dan bencana alam seperti banjir. Sampah juga dapat dianggap sebagai sumber penyakit. Bila kita lihat penumpukan sampah yang tak terurus ini sering terlihat di tempat-tempat umum, bahkan di sekolah kita. Padahal di saat global warming seperti ini kita harus dapat menghijaukan lingkungan, bukannya malah mencemari lingkungan. Kalaupun sampah – sampah itu telah dibuang, sampah itu dibuang begitu saja karena kita menganggap sampah – sampah itu adalah barang yang sudah tidak berguna, barang yang sudah tidak mempunyai manfaatnya lagi. Padahal sebenarnya kita telah keliru, sampah itu banyak manfaatnya untuk kehidupan kita bila kita mau mengolahnya dengan baik. Karena sampah itu sendiri adalah benda buangan dari aktivitas kita yang belum memiliki nilai ekonomis. Bagaimana agar sampah tersebut dapat bernilai dan bermanfaat? Salah satunya caranya yaitu pengolahan sampah organik menjadi kompos. Contoh sampah organiknya yaitu daun – daunan, buah-buahan, dan sayur-sayuran.  

2. Permasalahan 
 
Permasalahannya sampah organic tidak dapat langsung terurai menjadi kompos. Sampah – sampah tersebut masih dalam bentuk unsure yang kompleks, belum sederhana. Agar sampah tersebut dapat diubah menjadi unsur yang lebih sederhana, sampah tersebut harus dibusukkan terlebih dahulu. Bila kita menggunakan pembusukan alami, pembusukan akan memakan waktu yang sangat lama. Maka melalui cara kompos modern, sampah tersebut diolah dengan EM4 yang berisi mikroorganisme yang dapat membantu penguraian dan pembusukan agar sampah organic tersebut cepat menjadi kompos.  
1

3. Tujuan  

 Tujuan kita melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa optimal penguraian sampah organic jika menggunakan EM4. Selain itu kita juga ingin mengetahui bagaimana bentuk kompos jika kita menggunakan EM4, apakah cukup efisien dan efektif untuk digunakan atau masih memilki banyak kekurangan. Kita juga ingin mengetahui manfaat pengomposan menggunakan EM4. Dan yang terakhir, tujuan kita mengerjakan penelitian ini adalah tidaklah lain sebagai pekerjaan sekolah dan pengambilan nilai dalam mata pelajaran PLH (Pendidikan Lingkunan Hidup).  


BAB II

A. Landasan Teori 

A. Pengertian dan Pengelompokan sampah 

 Sampah mempunyai definisi yaitu suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996). Sedangkan menurut Kamus Istilah Lingkungan, sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan pemakaian barang rusak atau barang bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. Lalu menurut Prof. Ir. W. Radyastuti sampah adalah sumberdaya yang tidak siap pakai. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampah adalah barang yang sudah tidak terpakai atau dibuang yang tidak memiliki nilai namun dapat bernilai ekonomis jika kita dapat mengolahnya. 
 
 Sampah terbagi menjadi dua menurut cara penguraiannya yaitu, sampah organic dan anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sumber daya alam tak dapat diperbarui dan biasanya merupakan hasil dari proses industri. Secara keseluruhan sampah anorganik tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam proses yang lama. Contoh sampah anorganik yaitu plastic, kaleng, botol, dan lain –lain. 

 Yang kedua yaitu sampah organic yang terdiri dari bahan – bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang berasal dari alam. Sampah ini mudah terurai dalam proses alami karena bahan – bahannya saja berasal dari alam. Contoh sampah organic adalah sampah rumah tangga dan sampah pertanian yaitu, sayur-sayuran, buah-buahan, daun – daunan, dan lain sebagainya.  

B. Pengelolaan dan pemanfaatan sampah
 Sampah anorganik dapat diolah atau dimanfaatkan dengan cara daur ulang, yaitu penggunaan kembali materi/barang yang sudah terpakai untuk menjadi produk lainnya. Contohnya kerajinan tangan yang menggunakan bahan – bahan anorganik yang sudah tak terpakai sebagai bahan produksi. Misal, tas dari plastic bungkus mie instant. 

2
Selanjutnya pengolahan dan pemanfaatan sampah organic yaitu salah satunya adalah pengomposan/composting. Tentang pengomposan akan kami lebih ulas dalam. Kompos adalah pupuk organic yang berasal dari sampah rumah tangga, sampah tanaman, sampah pasar dan lain – lain dan dibuat melalui pengomposan. Untuk menjadi kompos, sampah organik tersebut harus mengalami pembusukan atau penguraian zat. Karena untuk menjadi kompos, sampah tersebut harus memiliki unsure – unsure yang sederhana sehingga dapat digunakan sebagai kompos. 

 Salah satu cara pengomposan yaitu dengan menggunakan biotikvaktor EM4. Sebenarnya pengomposan dapat dilakukan secara alami tanpa harus menggunakan biotikvaktor. Namun, prosesnya memakan waktu yang lebih lama. EM4 merupakan mikroorganisme pengurai atau bakteri pengurai yang dapat menghilangkan bau, dapat meningkatkan mikroba tanah, memperbaiki kesehatan dan kualitas tanah serta dapat mempercepat pengomposan/pembusukan. Hal itulah yang menjadi penyebab mengapa EM4 digunakan untuk pengomposan modern. 

 Manfaat kompos sangatlah sangatlah banyak. Yang pertama, bagi tanaman yaitu menambah kemampuan tanah dalam menyimpan air dan menyerap pupuk tambahan lainnya. Selain itu kompos juga menciptakan lingkungan yang baik bagi kehidupan jasad renik sehingga tanah menjadi subur. Hal ini akan membantu pertumbuhan tanaman. Sedangkan untuk manusia, kompos dapat menambah penghasilan penduduk dari hasil penjualan kompos, mengurangi timbunan sampah dan nilai estetika lingkungan, mempertahankan kualitas lingkungan di sekeliling, dan alternative lapangan kerja bagi penduduk, dan masih banyak lagi manfaat kompos yang lainnya. 

C. Dasar-dasar pengkomposan

 Pada dasarnya semua bahan organik padat maupun cair dapat dikomposkan, misalnya limbah rumah tangga, sampah-sampah organik pasar atau kota, limbah-limbah pertanian, dll
Proses pengkomposan 
 Dalam proses pengkomposan, sampah-sampah organik secara alami akan mengalami pembusukan atau penguraian oleh mikroba atau jasad renik seperti bakteri, jamur, dan sebagainya. Pada proses penguraian dibutuhkan kondisi lingkungan yang optimal dan sesuai agar semakin cepat atau semakin baik mutu komposnya. Kondisi yang dibutuhkan seperti ketersediannya nutrisi kelembaban yang tepat atau udara yang cukup.
 Proses pengkomposan akan dimulai saat bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pengkomposan bercampur. Proses pengkomposan secara sederhana terbagi menjadi dua tahap. Yaitu, tahap aktif dan tahap pematangan. Pada tahap awal pengkomposan, oksigen dan senyawa yang mudah terurai akan di gunakan oleh mikroba mesofilik. Suhu akan meningkat dengan cepat hingga 50 – 70 0C. Begitu juga dengan peningkatan pH kompos. Mikroba yang aktif pada tahap pertama ini adalah mikroba termofilik, yaitu mikroba yang aktif di suhu yang tinggi. Mikroba dengan memanfaatkan oksigen akan menguraikan bahan-bahan atau senyawa. Setelah sebagian besar bahan atau senyawa terurai perlahan-lahan suhu akan turun. Dan dilanjutkan tahap pematangan, Yaitu pembentukan kompleks liat humus dan pengurangan bobot sebanyak 30%-40% dari bobot awal. 


3



D. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengomposan.
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengomposan antara lain adalah:

a. Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif berkisar 30:1 atau 40:1. Mikroba adalah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Dekomposisi atau penguraian akan berjalan lambat bila mikroba kekurangan N untuk sintesis protein.
b. Ukuran partikel. 
Ukuran partikel berpengaruh sebab semakin luas area kontak bahan kompos dengan mikroba maka proses dekomposisi atau pengiraian akan berjalan dengan cepat.
c. Aerasi.
Penggantian udara atau aliran udara yang mempengaruhi pada proses pengkomposan.
d. Porositas.
Porositas adalah ruang yang berada di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Rongga itu di isi oleh udara atau air. Rongga yang berisi udara akan menyuplai oksigen untuk proses pengkomposan dan akan menggangu proses pengkomposan bila suplai oksigen berkurang.
e. Kelembaban
Bahan organik akan mudah dimanfaatkan oleh mikroba bila bahan organik tersebut berada di dalam air dan kelembaban untuk proses pengkomposan yang maksimum adalah 40-60%
f. Suhu.
Semakin tinggi suhu akan semakin banyak konsumsi udara dan akan semaki cepat pula proses penguraiannya. Suhu yang menunjukan aktivitas pengkomposan yang optimal berkisar antara 30-60 oC. apabila suhu lebih dari kisaran 30-60 oC suhu tersebut dapat membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba termofilik saja yang dapat bertahan hidup. 
g. Tingkat keasaman
pH yang baik untuk proses pengkomposan berkisar antara 6.8 sampai 7.5 dan pH kompos yang sudah matang akan mendekati normal.
h. Kandungan hara.
Kandungan posfor dan kalium juga penting dalam proses penkomposan dan akan dimanfaatkan oleh mikroba selama pengkomposan.
i. Kandungan bahan berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin akan berbahaya bagi kehidupan mikroba. Bahan-bahan tersebut adalah Mg, Cu, Zn, Ni, dan Cr. Bahan-bahan tersebut mengalami imobilisasi selama proses pengkomposan.




4
E. Manfaat kompos

Kompos memiliki manfaat di tinjau dari beberapa aspek, yaitu:

1. Aspek ekonomi :
a. Menghemat biaya transport dan penimbunan limbah
b. Mengurangi volume atau ukuran limbah
c. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari bahan asalnya.
2. Aspek lingkungan :
a. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
b. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
3. Aspek bagi tanah atau tanaman.
a. Meningkatkan kesuburan tanah
b. Memperbaiki struktur dan karateristik dari tanah
c. Meningkatkan kapasitas serap tanah
d. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
e. Meningkatkan kualitas hasil panen 
f. Menyediakan hormon dan vitamin bagio tanaman
g. Menekan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman
h. Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara di dalam tanah

F. Menentukan tingkat kematangan kompos.
 
Ada beberapa cara sederhana dalam menentuka tingkat kematangan kompos tanpa harus ke laboratorium, yaitu:

1. Dicium atau di baui
Apabila kompos menimbulkan bau yang tidak sedap, berarti telah terjadi fermentasi anaerobik. Dan jika masih tercium seperti bahan asalnya (misal:daun) berarti kompos belumlah matang
2. Keras atau tidaknya bahan.
Kompos yang sudah matang akan terasa lunak ketika dihancurkan dan walau masih menyerupai bentu asalnya. 
3. Warna kompos.
Kompos akan berwarna coklat kehitaman bila kompos sudah matang.
4. Penyusutan.
Terjadi penyusutan bobot seiring dengan kematangan kompos.
5. Suhu.
Saat kompos matang maka suhu kompos akan mendekati suhu awal pengkomposan tetapi jika suhu masih diatas 50 derajat celcius maka saat itu masih terjadi pengkomposan aktif dan kompos belum matang.

5
6. Tes perkecambahan
Kompos yang matang di tunjuka oleh banyaknya benih yang berkecambah bila beberapa benih di taruh di dalam kompos.

G. Meningkatkan kualitas kompos.
 
Ada beberapa cara untuk meningkatkan kualitas kompos, diantaranya adalah:

1. Pengeringan.
Pengeringan dapat dilakukan dengan bantuan sinar matahari atau dengan mesin pengering.
2. Penghalusan.
Penghalusan kompos dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan meremas ataupun menumbuknya. Mesin penghalus dapat membantu penghalusan jika kita tak ingin repot-repot meremas atau menumbuk kompos. Kompos selanjutnya di ayak guna memilah-milah kompos dengan kahalusan tertentu.
3. Penambahan bahan yang kaya zat hara.
Kompos dapat ditambah dengan bahan-bahan yang kaya akan zat hara seperti dolomit, azzola dan pupuk kandang ataupun coco peat. Dolomit meningkatkan kandungan magnesium, fosphat dan zeolit yang berguna untuk meningkatkan kapasitas tukar kation. Azzola dan pupuk kandang berguna untuk meningkatkan kandungan nitrogen, asam humat dan fulfat untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Coco peat berguna untuk meningkatkan kemampuan menahan air kompos. Nitrogen, fosphat dan kalium adalah unsur hara yang penting bagi tanaman.

B. Teknik dan Metode 

A. Alat dan Bahan 
Bahan: 
• 10 liter air
• 200 gram gula merah
• 1 liter air beras yang telah dibusukan selama 2 hari 
• 750 ml EM4 murni 
• 1 kg sampah daun(cacah)  
Alat : 
• Ember dengan tutup
• Kantong plastic yang telah dibolongi
• Lakban
• Pengaduk 






6
B. Cara kerja 
1. 10 liter air dicampur dengan 200 gram gula merah 
2. Lalu campuran tersebut dicampur dengan 1 liter air cucian beras 
3. Tambahkan 750 ml EM4 murni, lalu diaduk. 
4. Masukkan 1 kg sampah daun ke dalam kantong plastic yang sudah dibolongi
5. Masukkan sampah daun tersebut ke dalam ember yang berisi campuran di atas
6. Tutup dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen), usahakan tertutup rapat, bisa juga ember tersebut dilakban agar tak ada oksigen yang masuk. 
7. Tunggu hingga 4 hari – 2 minggu


BAB III

A. Hasil dan Pembahasan

Setelah melakukan pengkomposan dengan EM4 kami mendapatkan hasil kompos berupa padatan kering, berwarna hitam, dan berbau. Berat kompos awal dengan akhir juga berkurang. 

Dalam melakukan pengkomposan ini ada beberapa tahap yang kami lakukan, yaitu:
1. Tahap pembuatan kompos. 
Dalam tahap ini kami melakukan pencampuran bahan-bahan seperti dalam langkah kerja. Kondisi dalam ember haruslah dalam kondisi anaerob agar bakteri EM4 yang berada di dalam ember itu tidak mati dalam sekali pengkomposan. 
2. Tahap pembusukan. 
Dalam tahap ini kami membiarkan kompos daun membusuk oleh bakteri EM4 selama 0-3 minggu
3. Tahap pengeringan.
Tahap ini dilakukan setelah minggu ke-3 dan memastikan bahwa daun telah busuk. Saat pengangkatan kompos dari ember kompos dalam kondisi lembek, berbau, dan air larutan bertambah banyak. Setelah itu kami keringkan di atas kertas koran sebab saat kami keringkan di atas plastik ternyata air larutan muncul kembali sehingga kami menggunakan koran dengan memanfaatkan daya kapilaritas air ke dalam koran tersebut. Tahap pengeringan ini berlangsung dari minggu ke 3-5 sejak pertama kali di mulai.
4. kompos yang telah kering siap untuk di gunakan

Dalam melakukan pengkomposan ini juga terdapat kekurangan dan kelebihan, yaitu:

Kelebihan: 
• air larutan EM4 dapat di gunakan bekali-kali. 
• Biaya produksi kompos cukup murah dengan modal lancar berkisar Rp 10.000-15.000.
• Proses yang di lakukan terbilang sederhana.
• Kompos dengan EM4 juga bermanfaat untuk mengembalikan sifat tanah dan unsur-unsur hara di dalam tanah. 


7
Kekurangan: 
• Dalam tahap pengeringan dengan koran, kompos daun menempel pada koran sehingga cukup merpotkan.
• Kurangnya pengalaman dalam melakukan kompos secara langsung sehingga hasil yang di dapat kurang maksimal.

B. Kesimpulan

Dapat di simpulkan bahwa dalam pengkomposan dengan EM4 ini EM4 membantu mempercepat proses pembusukan. Daun hijau layu yang kami gunakan dalam pengkomposan ini dapat membusuk hanya dalam waktu 0-3 minggu. Penggunaan EM4 dalam pengkomposan itu ramah lingkungan walau di gunakan dalam jumlah yang banyak. EM4 dapat di biakkan dengan mudah sehingga modal untuk melakukan pengkomposan selanjutnya tidak perlu membeli EM4 yang baru. Cukup dengan bekas atau hasil biakkan EM4 tersebut.

2 komentar:

Berita mengatakan...

lumayan bro..btw koq cuma satu bro postingnya... ada kreatifitasmu yang lebih moy g?.. beritagresik.blogspot.com

imankurniawan mengatakan...

sorry, mungkin koreksi sedikit. apa tidak salah menutup rapat ember. Pembusukan harus dalam kondisi aerob, dengan kata lain harus cukup oksigen. Begitu yang saya tahu berdasarkan artikel-artikel yang saya baca.